Skip to content Skip to footer

Rethinking Marketing: Bagaimana Brand Tetap Relevan di Era AI

AI membuat pekerjaan marketing semakin cepat. Konten dapat dibuat dalam hitungan detik, data lebih mudah dianalisis, dan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak waktu kini dapat dibantu oleh teknologi. Namun, ketika setiap brand memiliki akses pada teknologi yang sama, pertanyaan berikutnya adalah: apa yang membuat sebuah brand tetap dipilih?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam AN Insight Live 2026: Rethinking Marketing, yang diselenggarakan oleh AN Consulting pada 8 September 2026 di CGV FX Sudirman, Jakarta. Mengusung tema How Brands Adapt, Integrate, and Grow in the AI Era, acara ini menghadirkan empat perspektif yang mencakup strategi marketing, konsumen, brand, hingga pertumbuhan bisnis.

AN Insight Live: Menciptakan Ruang bagi Marketer untuk Belajar dan Terhubung

Acara ini diikuti oleh lebih dari 80+ peserta, yang sebagian besar merupakan marketer dari berbagai role, brand, organisasi, serta perusahaan dari beragam industri. Tidak hanya berbagi insight, AN Insight Live dirancang sebagai ruang bagi para marketer untuk terhubung, bertukar pengalaman, dan mendiskusikan berbagai tantangan yang mereka hadapi di tengah industri yang terus berubah.

Bagi Finastri Annisa, Founder AN Consulting, inisiatif ini merupakan bagian dari peran AN Consulting untuk mendampingi para marketer, bukan hanya melalui layanan konsultasi.

“AN Insight Live adalah salah satu cara AN untuk menjadi teman bagi para marketer. Menjadi marketer tentu tidak mudah, terutama ketika harus menghadapi tantangan industri, persaingan bisnis, dan kondisi ekonomi saat ini. Kami ingin AN Consulting menjadi marketer’s best friend, tempat untuk berbagi, bercerita, serta menemukan solusi, strategi, dan insight yang dapat memberikan manfaat bagi bisnis mereka.”

Pengalaman dalam acara ini juga dirancang dengan mempertimbangkan bagaimana audiens belajar. Alih-alih menggunakan ruang seminar atau meeting room pada umumnya, AN Consulting memilih studio bioskop untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih immersive dan interaktif.

Menurut Andin Rahmana, MBA, Marketing Consultant & Co-Founder AN Consulting, format bioskop dipilih untuk memberikan suasana yang lebih nyaman bagi marketer dalam menikmati materi sekaligus menciptakan pengalaman yang berbeda dari acara profesional pada umumnya.

Format ini juga sejalan dengan semangat AN Insight Live: proses belajar tidak harus selalu terasa formal dan kaku. Pembelajaran dapat menjadi sebuah pengalaman yang memungkinkan marketer untuk lebih nyaman menerima perspektif baru sekaligus membangun percakapan dengan orang lain yang menghadapi tantangan serupa.

Ketika Konten Menjadi Semakin Melimpah

Dalam sesi yang dibawakan oleh Andin Rahmana, MBA, perubahan peran marketer menjadi salah satu pembahasan utama.

AI kini dapat membantu berbagai pekerjaan taktis dalam marketing, mulai dari copywriting, desain, media optimization, hingga reporting. Karena itu, sekadar mengetahui cara menggunakan berbagai tools tidak lagi cukup. Marketer perlu memahami hubungan antara customer, brand, data, dan business.

Perubahan ini mendorong marketer untuk bergerak dari sekadar menjadi tactical executor menjadi integrated marketer, profesional yang mampu melihat persoalan secara lebih menyeluruh dan menggunakan AI untuk mendukung pengambilan keputusan tanpa menggantikan strategic judgment.

Ketika produksi konten menjadi semakin mudah, Andin menyoroti sebuah perubahan mendasar: “Content is no longer scarce. Consumer attention and original ideas are.”

Tantangannya, karena itu, bukan lagi seberapa banyak konten yang dapat diproduksi oleh sebuah brand, tetapi apakah konten tersebut cukup berbeda dan relevan untuk mendapatkan perhatian.

Konsumen Juga Terus Berubah

Perubahan tidak hanya terjadi di sisi brand. Triana Hadiprawoto, Ph.D., Assistant Professor of Marketing & Digital Communications di Monash University Indonesia, membahas bagaimana perjalanan konsumen kini semakin sulit dipetakan.

Customer journey tidak lagi bergerak secara linear dari awareness hingga purchase. Konsumen dapat berpindah antara review, komunitas, media sosial, hingga rekomendasi yang dihasilkan AI sebelum akhirnya mengambil keputusan.

Seperti yang disampaikan Triana, “the customer isn’t always human anymore.” AI assistant semakin berperan dalam membantu konsumen mencari informasi dan menentukan pilihan.

Bagi marketer, perubahan ini berarti memahami konsumen membutuhkan lebih dari sekadar melihat apa yang mereka klik atau beli. Brand juga perlu memahami motivasi, kebutuhan, dan effort yang berada di balik keputusan tersebut.

Brand Harus Terus Mendapatkan Relevansi

Perspektif berikutnya datang dari Rahma Annisa, Brand Head Godrej Indonesia dan Co-Founder Life at FMCG. Menurutnya, brand tidak dapat hanya mengandalkan hal-hal yang membuat mereka sukses di masa lalu.

“Heritage gets you remembered. Relevance gets you chosen.”

Konsumen dapat berubah lebih cepat daripada brand. Pilihan semakin banyak, channel semakin beragam, dan ekspektasi terhadap kecepatan serta kemudahan semakin tinggi. Karena itu, brand perlu memahami apa yang harus dipertahankan dan apa yang perlu diadaptasi.

Hal ini tidak selalu berarti brand harus membuat campaign baru setiap kali perilaku konsumen berubah. Terkadang, gap justru berada pada produk, pesan, channel, atau pengalaman yang diberikan kepada konsumen.

Dari Customer Closeness Menuju Sustainable Growth

Setelah membahas perubahan pada marketer, konsumen, dan brand, Finastri Annisa, M.S.M., Marketing Consultant & Founder AN Consulting, membawa pembahasan pada pertanyaan yang lebih luas: bagaimana customer closeness dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan?

Dalam sesinya, Designing for Sustainable Growth, customer closeness tidak hanya dipandang sebagai hubungan yang baik antara brand dan konsumen. Kedekatan tersebut perlu dibuktikan melalui dampak terhadap bisnis, mulai dari preference dan conversion hingga retention, repeat purchase, dan customer value.

Untuk mendukung hal tersebut, AN Consulting memperkenalkan pendekatan Find the Gap, Close the Gap, dan Measure the Gap. Brand perlu terlebih dahulu menemukan jarak antara apa yang dibutuhkan konsumen dan apa yang diberikan oleh brand, menentukan respons yang tepat, kemudian mengukur apakah gap tersebut benar-benar semakin kecil.

Rethinking Marketing, Bukan Sekadar Mengikuti Teknologi

Dari keempat perspektif tersebut, satu hal menjadi semakin jelas: marketing di era AI bukan sekadar tentang mengadopsi teknologi baru.

AI memang dapat membantu brand bekerja lebih cepat. Namun, teknologi tidak secara otomatis membuat brand menjadi lebih dekat dengan konsumennya.

Ketika konten semakin mudah diproduksi dan pilihan konsumen terus bertambah, brand justru perlu kembali pada hal-hal yang mendasar: memahami konsumen, menjaga relevansi, membangun kepercayaan, dan memastikan setiap aktivitas marketing memberikan dampak yang berarti bagi bisnis.

Marketer yang siap menghadapi 2027 bukan hanya mereka yang mampu menjangkau audiens paling banyak. Mereka adalah marketer yang mampu memahami konsumen lebih cepat, merespons lebih baik, dan tetap dekat dengan mereka

Leave a Comment